RENCANA
PENGEMBANGAN PENANGKARAN TUMBUHAN DAN SATWA LIAR DI JAWA TIMUR
KONDISI SAAT INI
1. Penangkapan Alam dan Perdagangan Illegal, termasuk Penyelundupan, masih marak.
2. Penangkaran <<< Penangkapan Alam, karena biaya produksi Penangkaran >>> Penangkapan Alam.
3. Teknik Penangkaran, relatif belum banyak dikuasai, sehingga hasilnya belum memuaskan.
4. Budaya MENANGKAR, masih rendah, dan tidak ada insentif dari Pemerintah.
5. Pelayanan Perijinan dan Birokrasi, relatif tidak menarik dunia usaha penangkaran.
6. Perdataan/Informasi Potensi Alam, sangat minimal.
KONDISI YANG DIINGINKAN
1. Penangkapan Alam dan Perdagangan Illegal, termasuk Penyelundupan, BERKURANG NYATA.
2. Peningkatan Budaya MENANGKAR, sehingga Penangkaran > Penangkapan Alam.
3. INSENTIF bagi Usaha Penangkaran, dan disinsentif bagi Penangkapan Alam.
4. Teknik Penangkaran, tersosialisasikan dengan baik, sehingga biaya produksi menurun dan produktivitas`meningkat nyata.
5. Pelayanan Prima dan Birokrasi Efektif, sehingga kondusif bagi Usaha Penangkaran dan Konservasi SDA.
6. Mitra Kerja Legal bertambah, dan data Potensi Alam lebih akurat.
STRATEGI KERJA KSDA
1. Membangun BUDAYA BER-MITRA (Kemitraan Mutualistik). Pengembangan kebersamaan dan kekeluargaan SDM Internal dalam berbisnis dan Konservasi SDA, dan membangun pola pikir bahwa Kawasan Konservasi merupakan tanggung jawab, kerja dan kebutuhan semua/bersama.
2. Membangun BUDAYA MELAYANI. Pengembangan ketulusan dan keramahan SDM Internal dalam memenuhi kebutuhan pengunjung, guna membangun image baik, yang berdampak langsung dan positif pada ekowisata dan konservasi SDA.
3. Membangun WAHANA IN-HOUSE TRAINING. Media tempat Belajar, Bekerja dan Berapresiasi bagi SDM Internal dan Masyarakat, guna kepentingan Konservasi SDA. Transfer teknologi mandiri guna menyiapkan SDM Profesional yg multi disiplin ilmu.
4. Menjadikan MASYARAKAT sebagai Pelaku Konservasi Sumber Daya Alam, EKSPORTIR/ PENGUSAHA sebagai Pendukung Modal, Manajemen, Teknologi dan Pasar terhadap Usaha Ekonomi Produktif Masyarakat, dan PEMERINTAH sebagai Dinamisator, Regulator dan Fasilitator Usaha Ekonomi dan KSDA Mandiri Masyarakat.
5. Menjadikan PENGUNJUNG sebagai Sumber Daya Konservasi SDA. Pengelola KK harus berjuang mendatangkan dan melayani Pengunjung, sehingga kedepan Pengunjung tersebut dapat menjadi provokator kedatangan kerabat lainnya dan menjadi pejuang konservasi mandiri. MELIHAT, MENGETAHUI, DAN MELAKUKAN.
6. Sinergisitas Ekowisata dan Konservasi SDA, dimana Ekowisata yang bermateri kegiatan Konservasi SDA. Kegiatan Ekowisata ke kegiatan Konservasi SDA. Datang untuk ber-ekowisata/rekreasi/petualang, dan Pulang menjadi kader konservasi.
7. Menjadikan kegiatan Pembinaan Habitat dan Populasi sebagai kegiatan pokok dalam Ekowisata. Semua kunjungan wisatawan/pengunjung diarahkan untuk melakukan kegiatan penanaman pohon satwa dan melepas satwa liar.
SASARAN PENSINERGIAN SUMBER DAYA
BBKSDA JATIM
1. Pemanfaatan SDA dan SDM Potensial yang ada.
2. Pengembangan Keilmuan dan Ketrampilan, serta Inisiatif dan Apresiasi Kerja Produktif.
3. Kemitraan Mutualistik dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi SDA.
MITRA KERJA
1. Profesional Efektif dan Efisien.
2. Mitra dalam Bisnis dan Konservasi SDA.
3. Pemenuhan Permodalan, Manajemen, Teknologi dan Pasar.
PROGRAM PENGEMBANGAN PENANGKARAN
1. Sistem Kandang (Induk, Generasi, Pakan Penuh).
2. Sistem Semi Alami (Induk, Telur, Anakan, Pakan Tidak Penuh, Campuran Jenis Darat dan Air, Tempat Terbatas).
3. Sistem Alami (Tempat Luas dan Alam, Lepas Anakan dan Panen Alam, Tidak diberi Pakan, Pembinaan Populasi).
4. Sistem Transisi Alam (Alam setelah ber-Telur, baru diperdagangkan).
Surabaya, Desember 2008
BALAI BESAR KSDA JATIM