Mon, 12 Jan 2009 (17:46)
Thu, 09 Oct 2008 (05:34)
Sun, 21 Sep 2008 (05:20)
Mon, 05 May 2008 (12:16)
Acak Foto

  »  Potensi Balai

MANGROVE DI JAWA TIMUR
05 May 2008 (12:16)

A. Ekologi Mangrove
Kata mangrove adalah kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove (Macneae, 1968). Adapun dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan untuk menunjuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut.
Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Adapun menurut Aksornkoe (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit (tumbuhan yang hidup pada tempat-tempat dengan kadar garam tinggi atau bersifat alkalin) yang hidup disepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.
Secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Ada beberapa istilah lain dari hutan mangrove :
Tidal Forest     : Hutan pasang surut
Coastal Woodland : Kebun kayu pesisir
Coastal Woodland : Hutan banjir
Hutan payau     : Dilihat dari campuran airnya (asin dan tawar) atau dalam bahasa melayu disebut hutan paya
Hutan bakau     : Sebenarnya bukan istilah yang tepat karena bakau adalah salah satu jenis dari mangrove tapi istilah ini sudah berkembang secara umum di masayarakat

Adapun manfaat dan fungsi dari mangrove antara lain :
- Sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi, penahan intrusi air   laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
- Penghasil sejumlah besar detritus (hara) bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut.
- Daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding ground), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
- Penghasil kayu konstruksi, kayu baker, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
- Pemasok larva (nener) ikan, udang dan biota laut lainnya.
- Habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia (monyet)
- Sebagai tempat wisata

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman mangrove tinggi, merupakan tipe hutan khas yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang memenuhi beberapa kriteria.Dari 15,9 juta ha luas hutan mangrove dunia, sekitar 3,7 juta ha atau 24%-nya berada di Indonesia. Sehingga Indonesia merupakan tempat komunitas mangrove terluas di Dunia.
Hutan mangrove seringkali disebut hutan bakau, dan hutan payau. Istilah bakau umum digunakan di Indonesia karena sebagian besar hutan mangrove ditumbuhi oleh jenis bakau, bako, tinjang (Rhizophora mucronata) sehingga beberapa orang menafsirkan semua hutan mangrove adalah terdiri dari hutan bakau namun sebenarnya hutan bakau/mangrove yang umum digunakan itu terdiri dari berbagai macam jenis bila diantaranya Avicennia marina, A. alba, Bruguiera gymnorhiza, B. cylindrica , Rhizophora mucronata, R. apiculata, R, stylosa, Sonneratia alba, S. caseolaris

B. Mangrove Jawa Timur
Kawasan Pesisir utara Jawa Timur seperti Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo dan Situbondo, merupakan satu kesatuan pantai yang memiliki pola perkembangan garis pantai yang berbeda, sebagian besar dari wilayah pantai diatas memiliki ciri topografi wilayah pantai yang relatif datar dengan kemiringan 0-3 derajat, banyaknya sungai yang bermuara mengakibatkan beberapa wilayah dikawasan pessir utara jawa mengalami pertambahan luas tanah sehingga pantainya semakin menjorok kelaut (sedimentasi)garis pantai Mangrove hanya tumbuh pada wilayah pesisir. Sepanjang Patura Jawa Timur terdapat lebih dari 25 jenis tumbuhan mangrove, tumbuhan yang ditemukan sebagian besar merupakan jenis bakau dan api-api, kedua golongan ini paling umum dijumpai dan dikenal masyarakat pesisir karena selain tumbuh alami di tepi pantai jenis ini ditanam masyarakat ditepi-tepi tambak tradisional yang difungsikan sebagai penahan pematang tambak agar tidak longsor sebagian lagi ditanam ditengah tambak untuk mengundang kawanan burung untuk bersarang dipohon, karena sebagian besar petambak di daerah Ujung Pangkah Gresik, Sememi (Surabaya) dan Curah sawo (Probolinggo) merasakan manfaat keberadaan burung tersebut karena menurut mereka kotoran burung berpengaruh pada produksi ikan yang mereka panen. Hutan mangrove yang ada di Jawa Timur umumnya menempati daerah muara sungai, kawasan terbesar adalah daerah delta Brantas yang meliputi Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan sebagian Probolinggo, karena transport sedimen yang cukup besar dari Sungai yang bermuara disepanjang pantai tersebut lambat laun daerah tersebut membentuk tanah yang terus maju kelaut (tanah oloran) hal ini semakin dipercepat dengan pantai yang landai dengan ombak yang tenang. Pada tahun 70-an kawasan ini merupakan belantara mangrove yang menyimpan keanekaragaman hayati tinggi, hal ini terbukti dengan digunakannya daerah ini sebagai daerah persinggahan burung pengembara (migran) yang berasal dari benua eropa menuju Australia, tempat tinggal dari puluhan jenis burung air diantaranya kuntul (Egretta alba), Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus), Belibis kembang (Dendrocygna arquata), Pecuk ular (Anhinga melanogaster), dan jenis burung air lainnya, namun sekarang karena semakin bertambah banyaknya jumlah manusia di Jawa Timur keberadaan mangrove digantikan oleh lahan-lahan yang memenuhi kebutuhan hidup manusia seperti tambak udang dan bandeng, pemukiman, tempat rekreasi, pelabuhan laut, pemukiman dan sawah.
Penyusutan tersebut lambat laun membawa dampak pada kualitas dan daya dukung lingkungan pesisir yang diawali dengan punahnya 4 jenis tumbuhan mangrove di delta brantas.
Hutan mangrove dapat tumbuh pada daerah pesisir yang memiliki ciri khusus yaitu
1. memiiliki topografi pantai yang landai dengan kemiringan 0-5 derajat,
2. adanya pengaruh pasang surut, adanya suplai air tawar,
3. beriklim sedang dengan kisaran suhu 25 - 30 Derajat Celcius.
Daerah Pantura yang memiliki potensi tumbuhnya mangrove/memenuhi syarat tumbuhnya mangrove adalah daerah Delta Brantas, namun ironis sekali sebab daerah ini merupakan daerah urban dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi yang memerlukan banyak fasilitas infrastruktur dan memanfaatkan wilayah pesisir :
1. dengan melakukan reklamasi pantai,
2. pembangunan/perluasan dermaga,
3. pembangunan perumahan pantai, sarana rekreasi, industri dan
4. pembangunan tambak,
sehingga selain berdampak pada kerusakan mangrove kini daerah perairan Delta Brantas terancam telah tercemar. Kondisi pesisir Pantura Jawa Timur saat ini mengalami beberapa kerusakan lahan terutama daerah yang telah digunakan sebagai tambak intensif yang mengalami kegagalan dan ditinggalkan pemiliknya sehingga saat ini banyak lahan tidur yang terdapat di daerah Situbondo dan Probolinggo.
Di Sidoarjo keberadaan mangrove dilindungi oleh Perda 17 Tahun 2003 tentang Kawasan lindung yang menetapkan sepanjang 400 meter pada daerah pasang surut merupakan kawasan lindung, untuk lebih melindungi mangrove dalam Perda ini juga diatur tentang sanksi 5 Juta rupiah bagi penebangan mangrove pada kawasan lindung, dengan kebijakan ini mangrove di Sidoarjo dapat dikatakan relatif terlindungi, hal ini berbeda dengan Hutan Mangrove di Wilayah Kota Surabaya yang sebagian besar diubah menjadi kawasan pengembangan Real Estate dan budidaya perikanan Payau di Pesisir Timur serta pengembangan kawasan industri dan Pergudangan untuk Kawasan Surabaya Utara.
Bahkan untuk Wilayah Gresik sebagian besar mangrovenya telah direklamasi menjadi kawasan pergudangan dan industri.
Perbedaan peruntukkan diketiga wilayah Kabupaten/Kota ini membawa dampak buruk terhadap kualitas lingkungan pesisir karena sebenarnya ketiga wilayah ini merupakan satu kesatuan wilayah yang memiliki satu fungsi ekosistem yang mendukung kualitas perairan di Utara Jawa Timur sehingga peruntukkan dan pemanfaatannya tidak dapat dipisahkan menurut daerah administrasi, ditambah lagi tidak ada instansi atau Dinas di lingkungan Pemerintah Kota/Kabupaten yang berwenang terhadap pengelolaan kawasan mangrove sehingga mengakibatkan lepasnya pengawasan apabila terjadi perambahan kayu mangrove.
Mangrove adalah ekosistem yang sangat kompleks yang terdapat di kebanyakan garis pantai tropis. Ekosistem mangrove dicirikan oleh tingginya produktivitas primer (Kemampuan menghasilkan karbohidrat/sumber makanan melalui fotosintesis.
Banyak kajian ilmiah yang menunjukkan bahwa mangrove memiliki peran penting dalam menunjang kualitas dan keberlangsungan kehidupan diwilayah pesisir sekaligus menjaga sumber perikanan, dari kajian yang dilakukan oleh ecoton disepanjang Jawa Timur masih terdapat 25 Jenis vegetasi mangrove dari 12 Famili keberdaan mangrove di Jatim didominasi oleh jenis Pohon Api-api (Familia Avicenniaceae), Pohon Bakau/Bako (Familia Rhizophoraceae), dan Pohon Bogem (Familia Sonneratiaceae) Ekosistem mangrove di Pantura Jatim memiliki 4 fungsi spesifik yang dapat mempengaruhi kualitas perairan pesisir yaitu :
1). kemampuannya mensuplai nutrien bagi peraian di sekitarnya. Dalam kajian yang dilakukan oleh ecoton tercatat lebih dari 7 ton/ha/tahun serasah (daun kering) diproduksi oleh ekosistem mangrove dipesisir Surabaya hasil ini setara dengan produktivitas ekosistem mangrove umumnya yang tersebar dari daerah Tropis sampai sub tropis serasah mangrove memainkan peranan penting dalam proses ini karena serasah mengandung 40% senyawa larut dalam air yang diubah menjadi biomassa bakteri kurang dari 8 jam setelah gugur ke perairan mangrove. . Hal ini membuat kawasan mangrove sering dikunjungi oleh beragam satwa untuk mendapatkan nutrisi. 90% dari jumlah ikan yang ditangkap dalam jarak 10 km dari pantai di Jawa dan Bali mengandung fragmen mangrove dalam ususnya.
2) Mangrove sebagai habitat burung air. Sebagai ekosistem yang subur dan kaya akan nutrisi membuat kawasan ini ramai dikunjungi oleh beragam satwa seperti burung, bahkan pada musim barat (bulan Oktober-Desember ) tercatat lebih dari 5000-20.000 populasi burung yang menjadikan kawasan utara Jatim sebagai daerah untuk mencari makan dan berkembang biak dari jenis kuntul (Ardeideae), pecuk (Phalacrocorax), kowak sampai tahun 2003 tercatat 43 burung air mengandalkan Mangrove sebagai ekosistem yang menunjang kelestarian mereka. Kawasan Pesisir Utara Jatim termasuk dalam satu kesatuan wilayah Pantura Jawa yang menjadi kawasan transit bagi burung-burung yang melakukan migrasi dari belahan bumi utara menuju bumi selatan untuk menghindari musim dingin. Tercatat lebih dari 43 jenis burung air dan 25 jenis burung migran. Bahkan di Daerah Curah Sawo Kecamatan Gending Probolinggo dan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik, pemilik tambak mendapatkan penghasilan tambahan dari telur-telur burung yang bersarang diatas mangrove diareal tambak mereka.
3). Keberadaan mangrove berperan penting dalam siklus hidup beberapa biota yang bernilai ekonomis seperti Kepiting, udang, bandeng dan ikan laut lainnya, karena pada masa bertelur dan memijahkan anaknya sebagian besar biota-biota itu bersiklus dikawasan pesisir yang bermangrove, baru setelah mereka dewasa akan kembali kelaut lepas. Hal ini dapat ditunjukkan dengan tingginya populasi zooplankton (mata rantai penting dalam jaring-jaring makanan. Keberadaannya dapat menghubungkan antara produsen I dengan konsumen I) organisme ini sebagian besar akan tumbuh dewasa menjadi jenis ikan, udang, kepiting dan kerang.
4). Selain itu beberapa jenis pohon mangrove seperti Pohon Bakau (Rhizophora mucronata ) dan Pohon Api-api (Avicennia marina) memiliki kemampuan dalam mengakumulasi (menyerap dan menyimpan dalam organ daun, akan dan batang) logam berat pencemar, sehingga keberadaan mangrove di perairan Kali Lamong dapat berperan untuk menyaring dan mereduksi tingkat pencemaran logan berat di perairan laut. Selain 4 fungsi spesifik ini mangrove secara umum juga memiliki peran dalam mengurangi abrasi atau erosi pantai, berfungsi sebagai filtrasi air laut sehingga dapat menghambat laju intrusi air laut, barrier bagi daratan terhadap angin laut, pengendali bagi vektor Malaria . Mengingat besarnya potensi dan ancaman terhadap kelestarian fungsi ekosistem mangrove, Pemprov Jaim harus mengambil dua langkah startegis yaitu, Pertama Eksplorasi potensi dan daya dukung ekosistem pesisir khususnya ekosistem mangrove di Pantura Jatim mengingat pentingnya peran ekosistem ini dalam mendukung budidaya perairan payau dan menunjang kualitas lingkungan estuari (kawasan yang terpengaruh oleh sungai dan laut).  (Agus Irwanto/Polhut BBKSDA Jatim, dari berbagai sumber)



Pengembangan Ternak silang domba ekor gemuk lokal dan domba merino pada kelompok tani penyangga hutan TWA Gunung baung - Selamat tahun baru hijriah - Jambore Peduli Mata Air 23 - 24 Nopember 2012 di Desa Cowek Kecamatan Purwodadi, Kab Pasuruan - Pelatihan Inseminasi buatan domba ekor gemuk lokal dan merino untuk BKSDA Aceh