Melihat Penjual Musiman Belalang di Desa Karetan, Purwoharjo
03 Feb 2010 (20:03)
Berburu Sampai Pulau Merah, Satu Sunduk Hanya Rp 20 Ribu
Deretan penjual belalang, kini banyak ditemukan di tepi sepanjang jalan raya tengah hutan wilayah Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo. Para penjual ini, hanya ada setiap musim hujan seperti sekarang ini. Meski hanya musiman, tapi keberadaan mereka itu ternyata sudah dikenal hingga luar kota, bahkan sampai ke luar Jawa.
AGUS BAIHAQI, Banyuwangi
---
"Pak, beli belalang, rasanya gurih, lho," demikian penawaran yang banyak disampaikan oleh para penjual belalang, bila kita melewati di jalan raya tengah hutan Desa Karetan. Para penjual yang umumnya ibu-ibu, menawarkan dagangannya sambil berdiri di tepi jalan.
Biasanya, deretan penjual belalang yang hampir semuanya berasal dari Dusun Sidodadi, Desa Karetan ini, mulai jualan sekitar pukul 08.00. Dan mereka itu, baru pulang bila belalang yang dijual telah habis, atau sekitar pukul 16.00. Karena lamanya jualan, tidak sedikit dari penjual itu membawa bekal makanan, bagi yang punya anak kecil diajak juga.
Harga belalang yang dijual itu, ternyata sama. Setiap satu sunduk yang jumlahnya mencapai 200 ekor belalang, dijual dengan harga Rp 20 ribu. "Harga harus sama, kalau ada yang menjual belalang di bawah harga standar, bisa dimarahi yang lain," cetus Sabar, salah satu penjual belalang.
Harga belalang yang mencapai Rp 20 ribu setiap sunduk ini, lebih mahal Rp 5.000 dibanding tahun sebelumnya. Karena biasanya, harganya hanya Rp 15 ribu setiap sunduk. "Harga jadi mahal, karena mencari belalang ini sekarang di sekitar PM (Pulau Merah, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, red)," dalih Yeni Suwarno, 38, penjual belalang lainnya.
Tahun-tahun sebelumnya, para penjual ini memburu belalang di sekitar hutan Karetan. Semenjak lahan di hutan banyak digarap warga untuk tanaman palawija, belalang menghilang. "Tanamannya diobat racun, belalangnya banyak yang mati," katanya.
Di hutan sekitar Pulau Merah, warga ini mulanya mencari belalang sendiri. Tapi sejak beberapa hari terakhir, mereka tinggal membeli dari warga sekitar. "Warga sekitar PM, sekarang banyak yang mencari belalang, kita tinggal beli dari mereka dengan harga Rp 7000 setiap 100 ekor," ujarnya.
Dengan harga Rp 7000 setiap 100 ekor, maka para penjual belalang ini hanya mendapatkan untung sebesar Rp 6.000 setiap sunduknya yang mencapai 200 ekor. "Setiap hari biasanya terjual 10 hingga 15 sunduk, kalau hari Minggu dan hari libur lainnya bisa terjual 20 hingga 25 sunduk," ungkapnya.
Para pembeli belalang ini, umumnya orang yang melintas di sekitar jalan raya jurusan Purwoharjo-Tegaldlimo itu. Tapi tidak sedikit pula, pembeli berasal dari kota Banyuwangi atau wilayah lain yang secara khusus datang untuk membeli belalang. "Yang beli itu, paling banyak orang yang mengendarai mobil," paparnya.
Dengan bangga penjual yang sudah memiliki dua putera ini mengungkapkan, belalang yang dijual warga di tepi jalan raya hutan Karetan ini, sering dibuat oleh-oleh untuk dibawa ke beberapa kota lain. Tidak jarang pula, pembeli mengaku mendapat pesanan dari saudaranya yang ada di luar Jawa. "Ada yang dibawa ke Malang, Surabaya, dan kota lainnya, malah ada yang akan dibawa ke Sumatera segala," bebernya.
Belalang yang dijual ini, biasanya dikonsumsi setelah digoreng. Selain untuk dibuat lauk makan, juga enak untuk dibuat camilan. "Di buat sambel dan peyek, juga enak sekali. Meski tidak diberi bumbu, belalang ini rasanya sudah gurih," sebutnya.***